Interaksi yang
membangun pola pikir bertumbuh
merupakan definisi operasional
dari kinerja guru dalam
menanamkan keyakinan pada murid bahwa kemampuan
dirinya dapat terus berkembang dan, oleh karena itu, mereka mampu mencapai tujuan pembelajaran
yang ditetapkan. Ini bukan sekadar memotivasi, melainkan praktik pengajaran
yang sistematis di mana guru secara konsisten memberikan sinyal dan bukti nyata
kepada murid bahwa kecerdasan, bakat, dan keterampilan bukanlah sifat yang
tetap (fixed), melainkan sesuatu yang lentur dan bisa diperluas melalui usaha dan strategi yang tepat. Fokus utama dari interaksi ini adalah
mengalihkan fokus dari hasil akhir semata ke proses perjalanan belajar, membangun kepercayaan diri murid dalam menghadapi tantangan, dan melihat
kegagalan sebagai umpan balik yang berharga.
Ciri utama dari praktik pengajaran dan umpan balik
yang diterapkan oleh guru dengan pola pikir bertumbuh adalah penekanannya pada
penghargaan atas proses. Guru tersebut cenderung memberi umpan balik yang berfokus pada penghargaan atas usaha murid,
secara spesifik dan jelas. Misalnya, guru tidak hanya memuji "kerja
bagus," tetapi menyebutkan
perilaku atau usaha spesifik yang pantas diapresiasi, seperti "Saya
sangat menghargai caramu mencoba strategi yang berbeda di soal ini meskipun
awalnya sulit," atau "Kegigihanmu dalam merevisi draf esai itu
sungguh luar biasa." Selanjutnya, guru yang efektif akan menjelaskan kepada seluruh kelas tentang
mengapa perilaku atau usaha tersebut pantas diapresiasi, menjadikannya
contoh praktik belajar yang baik untuk semua.
Guru yang menerapkan
interaksi ini juga memiliki keyakinan mendalam yang mereka komunikasikan secara
eksplisit kepada murid, yaitu
bahwa murid yang kurang berprestasi pun
bisa meningkat kemampuan dan prestasi akademiknya asalkan mereka
melakukan perubahan. Guru tersebut tidak pernah melabeli murid berdasarkan
kemampuan saat ini, melainkan secara eksplisit
menyampaikan (kepada murid atau asesor) bahwa pertumbuhan itu mungkin.
Mereka akan menjelaskan atau
menunjukkan praktik yang sudah dilakukan—baik strategi belajar baru,
penggunaan sumber daya, atau kegigihan—agar murid-murid tersebut percaya bahwa mereka bisa menjadi lebih
pandai dan berprestasi di masa depan. Hasil dari proses ini adalah bahwa
murid memiliki pola pikir bertumbuh
dan secara internal menyadari potensi perkembangan dirinya.
Rasionalitas Interaksi Pola Pikir Bertumbuh
Rasionalitas
mendasar mengapa interaksi yang membangun pola pikir bertumbuh perlu dilakukan guru dalam pembelajaran
adalah untuk memutus siklus keputusasaan dan hambatan belajar yang diciptakan
oleh pola pikir tetap (fixed mindset). Ketika murid percaya bahwa
kemampuan mereka sudah paten, mereka cenderung menghindari tantangan, menyerah
setelah kegagalan pertama, dan merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.
Sebaliknya, interaksi growth mindset memberdayakan murid untuk mengambil
risiko intelektual, memandang kegagalan sebagai data yang memberi tahu mereka
di mana harus berinvestasi lebih banyak usaha
dan strategi, dan memelihara kegigihan
(daya tahan) yang diperlukan untuk penguasaan yang mendalam.
Pada akhirnya,
interaksi ini bukan hanya tentang meningkatkan nilai akademis, melainkan
tentang menyiapkan murid untuk menghadapi kompleksitas kehidupan pasca-sekolah.
Dengan menanamkan keyakinan bahwa kemampuan dapat dibentuk, guru membantu murid
mengembangkan kemampuan adaptif
yang krusial untuk menghadapi tantangan baru di masa depan. Pola pikir
bertumbuh yang tertanam melalui umpan
balik dan praktik pengajaran
yang disengaja menjadi kerangka mental yang memungkinkan murid untuk terus
belajar dan berkembang jauh setelah mereka meninggalkan kelas, menjadikannya
kompetensi abad ke-21 yang vital dan mendasar dalam proses pembangunan manusia seutuhnya.
Kunci penting
dari umpan balik pola pikir bertumbuh
adalah:
1. Spesifik: Menyebutkan perilaku atau
usaha yang diapresiasi ("Usahamu berlatih di depan cermin").
2. Fokus
pada Proses/Strategi:
Memberi tahu murid bagaimana mereka bisa berkembang dan apa yang
harus diubah ("Lihat lagi langkah-langkah yang kamu ambil,"
"mengasah caramu belajar").
3. Memisahkan
Nilai dari Identitas:
Tidak melabeli kemampuan bawaan, tetapi menyoroti tindakan yang dapat dikontrol
murid.
Terima
Kasih.

No comments:
Post a Comment