Implementasi penerapan kesetaraan gender pada sekolah atau madrasah dengan lingkungan homogen memiliki tantangan unik dalam mewujudkan iklim lingkungan belajar yang membangun kesadaran terhadap kesetaraan gender. Kinerja ini didefinisikan sebagai upaya sistematis sekolah dalam membangun kesadaran gender melalui proses pembelajaran, partisipasi dalam berbagai kegiatan, serta berbagai dukungan lainnya, meskipun seluruh muridnya memiliki jenis kelamin yang sama. Indikator ini tidak hanya berfokus pada wacana gender, tetapi juga mengukur kinerja sekolah dalam memfasilitasi hak sipil warga sekolah/madrasah yang berlatar belakang minoritas untuk beribadah, serta menjamin hak yang sama bagi setiap individu untuk berkiprah secara maksimal dalam seluruh kegiatan di sekolah/madrasah guna menyiapkan mereka menjadi warga dunia yang inklusif.
Pilar utama dalam mewujudkan kesadaran gender di sekolah homogen terletak
pada rancangan pembelajaran di kelas. Sekolah yang berkinerja baik secara
eksplisit mencantumkan muatan kesetaraan sebagai salah satu tujuan pembelajaran
utama. Hal ini krusial karena dalam lingkungan yang hanya berisi satu jenis
kelamin, pemahaman tentang "pihak lain" (lawan jenis) harus dibangun
secara kognitif melalui kurikulum. Rancangan ini memastikan murid memahami
bahwa kompetensi, tanggung jawab, dan hak asasi manusia tidak dibatasi oleh
jenis kelamin.
Kinerja sekolah/madrasah sangat bergantung pada
penggunaan sumber belajar yang berisikan materi relevan terhadap isu gender.
Sekolah/madrasah homogen harus proaktif menyajikan literatur yang menampilkan
peran-peran non-stereotip (parasangka subjektif). Misalnya, di madrasah khusus laki-laki, sumber belajar tetap harus
menonjolkan tokoh-tokoh pemimpin perempuan untuk memberikan perspektif bahwa
kapabilitas intelektual bersifat universal. Penggunaan materi yang relevan ini
berfungsi sebagai jembatan informasi agar murid tidak terisolasi dalam cara
pandang yang sempit.
Salah satu indikator penting adalah ketiadaan sumber
belajar (materi, buku paket, maupun buku bacaan) yang menunjukkan contoh kasus
yang mendorong pemahaman bahwa perempuan dan laki-laki tidak setara. Sekolah harus
melakukan pengawasan ketat agar tidak ada narasi yang memposisikan satu gender
sebagai subjek yang inferior dari gender lainnya. Dalam lingkungan homogen, ketiadaan
contoh ini sangat penting untuk mencegah terbentuknya prasangka terhadap jenis
kelamin yang tidak ada di lingkungan fisik sekolah tersebut.
Untuk melengkapi aspek kognitif, sekolah homogen perlu
mewujudkan kesadaran gender melalui kegiatan ekstrakurikuler yang mendobrak
stereotip yang bersifat tradisional. Contohnya,
di sekolah laki-laki diadakan klub/ekskul tata boga untuk menanamkan bahwa
kemandirian individu adalah keterampilan hidup universal. Sebaliknya, di
sekolah perempuan diselenggarakan ekskul robotik atau teknik untuk membangun
kepercayaan diri di ruang teknis. Selain itu, mengundang narasumber lintas
gender dalam seminar untuk membantu murid mendapatkan gambaran kiprah nyata
lawan jenis di dunia kerja yang lebih nyata dan luas secara profesional.
Sekolah atau madrasah yang homogen dikategorikan
berkinerja sangat baik apabila muatan tentang kesetaraan gender sudah
terintegrasi secara utuh dalam proses pembelajaran. Keberhasilan ini nampak
ketika ketiga kriteria utama terpenuhi,
yaitu adanya rancangan pembelajaran yang jelas, penggunaan materi yang relevan,
dan bersihnya sumber belajar dari konten diskriminatif. Pada tahap ini,
sekolah telah berhasil menciptakan ekosistem yang memahami dan menerima
kesetaraan gender meski secara fisik homogen, namun secara pemikiran bersifat
terbuka dan menghargai hak sipil seluruh warga sekolah.
Membangun kesadaran kesetaraan gender di sekolah/madrasah yang homogen
adalah bentuk komitmen pendidikan untuk memanusiakan manusia. Kinerja sekolah dalam
konteks ini bukan tentang perimbangan jumlah fisik, melainkan tentang kualitas
perspektif yang ditanamkan. Dengan kurikulum yang inklusif, menghilangkan
dominasi materi pada salah satu gender, dan kegiatan pendukung yang progresif, maka
sekolah/madrasah yang homogen dapat menjadi tempat persemaian bagi generasi
yang siap menghargai kesetaraan dan berkontribusi secara adil dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada lingkungan yang majemuk.
Sebagai
bukti kinerja sekolah, berikut adalah eviden (bukti fisik) yang menunjukkan
keterpenuhan indikator tentang Kinerja
Sekolah/Madrasah dalam mewujudkan Iklim lingkungan belajar yang membangun
kesadaran terhadap kesetaraan gender pada sekolah yang homogen:
|
No |
Kategori
Bukti |
Contoh
Dokumen/Eviden |
Catatan/Penjelasan |
|
1 |
Kurikulum dan Pembelajaran |
RPP/Modul Ajar Tematik dan
Hasil Verifikasi Buku Teks |
Menunjukkan upaya sengaja
untuk menghadirkan perspektif lawan jenis melalui studi tokoh, guna mencegah
cara pandang yang sempit yang membedakan salah satu gender. |
|
2 |
Kesiswaan dan
Ekstrakurikuler |
SK Pengurus OSIS & Program
Ekstrakurikuler, dan kegiatan sekolah lainnya. Program Kerja Ekskul Non-Tradisional
(Misal: Tata Boga di Putra / Robotik di Putri) |
Bukti nyata bahwa sekolah
menanamkan keterampilan hidup (life skills) secara universal dan mengilangkan
anggapan stereotip bahwa bakat robotic identik dengan pekerjaan laki-laki. |
|
3 |
Interaksi Akademik |
Laporan Diskusi/Seminar
dengan Narasumber Lintas Gender. |
Menunjukkan kinerja
sekolah dalam menghadirkan role model lawan jenis agar murid memahami profesionalitas
di dunia heterogen. |
|
4 |
Manajemen SDM |
SK Penugasan Guru/Tenaga
Kependidikan lintas gender dalam berbagai kegiatan/program sekolah. |
Menegaskan bahwa sekolah
tetap memberikan hak dan peran strategis yang adil bagi guru dan staf tanpa
melihat jenis kelamin. |
|
5 |
Iklim Budaya |
Dokumentasi Fasilitasi
Ibadah & Poster Edukasi, Anti Perundungan/Anti Bully, dll. |
Membuktikan bahwa sekolah
menghargai hak sipil secara luas dan menggunakan lingkungan fisik untuk
menyuarakan pesan kesetaraan. |
|
6 |
Karya & Ekspresi |
Kliping Opini Murid /
Poster Kampanye Kesadaran Gender. |
Bukti bahwa proses
pembelajaran telah berhasil menginternalisasi nilai kesetaraan hingga mampu
diekspresikan kembali oleh murid. |
Penting untuk diingat, bahwa:
·
Di sekolah heterogen, bukti kinerja paling kuat adalah
data partisipasi. Kita
melihat apakah perempuan dan laki-laki benar-benar hadir dan berkiprah bersama.
·
Sedangkan di sekolah homogen, bukti kinerja paling
kuat adalah internalisasi
nilai. Karena tidak ada interaksi langsung antar-murid beda jenis kelamin,
sekolah harus membuktikan bahwa murid berhasil menghilangkan pemikiran sempit bahwa
laki-laki dan perempuan setara, sehingga murid tidak canggung atau
diskriminatif saat ke luar dari lingkungan sekolah.
Terima
kasih.
Silahkan
berbagi jika bermanfaat.
No comments:
Post a Comment