Mari Berbagi...dan Memberi....

2026-02-19

Kinerja Sekolah/Madrasah dalam Membangun Sikap Positif terhadap Keberagaman.

| 2026-02-19

Ketika setiap elemen sekolah/madrasah, mulai dari pimpinan hingga staf dapat menunjukkan keteladanan dalam menghargai keragaman, maka suasana tersebut secara alami akan diserap oleh murid sebagai norma perilaku yang terpuji yang membudaya.

Iklim lingkungan sekolah/madrasah yang aman dan nyaman bagi semua murid adalah kunci dari sekolah/madrasah yang bermutu, salah satunya adalah bagaimana warga sekolah/madrasah menerima keberagaman.

Di tengah dinamika masyarakat global, sekolah/madrasah memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter generasi masa depan. Kinerja sekolah/madrasah dalam mewujudkan iklim lingkungan belajar yang membangun sikap positif terhadap keberagaman bukan sekadar tugas rutinitas sederhana dan biasa, melainkan upaya sistematis untuk menanamkan pemahaman bahwa keragaman agama dan budaya adalah keniscayaan yang wajar dan harus terwujud di lingkungan sekolah. Implementasinya dilakukan secara terintegrasi yang harmonis antara proses pembelajaran, program sekolah, dan penciptaan suasana lingkungan yang inklusif. Sekolah/madrasah harus bertransformasi menjadi ruang di mana perbedaan dihargai sebagai kekayaan, bukan pemisah sebagaimana yang diajarkan dalam semua agama, bahwa Allah SWT menciptakan berbagai suku, ras, dan lain-lain agar saling mengenal dan menjadi pelajaran bagi yang lain.

Kinerja sekolah/madrasah dalam bidang ini tercermin dari kemampuannya untuk menyelaraskan kurikulum dengan visi misi yang relevan terhadap kebutuhan murid. Hal ini dimulai dengan memastikan bahwa muatan pembelajaran dirancang secara khusus untuk membangun kepemilikan sikap positif terhadap keberagaman. Indikator keberhasilannya terlihat ketika kurikulum tidak hanya berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi mampu menyentuh aspek afektif murid sehingga mereka memiliki landasan moral yang kuat dalam memandang perbedaan di lingkungan sekitarnya sehingga tumbuh dan terbiasa dalam menerima saat ada segala perbedaan.

Budaya saling menghargai keberagama harus diawali melalui poses pembelajaran di kelas, di mana guru menerapkan strategi pengajaran yang menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari murid yang menujukkan keberagaman. Dengan mengaitkan nilai-nilai keberagaman pada realitas sosial yang mereka temui, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan aplikatif. Dalam konteks ini, sekolah yang berkinerja baik adalah sekolah yang mampu menjadikan isu keberagaman sebagai topik yang hidup dan relevan, bukan sekadar teori dalam buku teks.

Selain itu, ciri sekolah yang inklusif ditandai dengan adanya ruang bagi murid untuk berbagi pendapat, berefleksi, dan membangun kesimpulan secara mandiri. Strategi pedagogis yang dialogis ini memungkinkan murid untuk memahami perspektif orang lain dan mengasah empati. Melalui refleksi yang terpandu, pemahaman mengenai keragaman agama dan budaya tumbuh menjadi suatu nilai positif yang terinternalisasi dalam jati diri murid, sehingga mereka mampu bersikap bijak dalam pergaulan yang heterogen baik di sekolah/madrasah maupun di masyarakat.

Kinerja sekolah/madrasah juga diukur dari sinergi antara kepala sekolah/madrasah dan guru yang menyadari bahwa sikap positif terhadap keberagaman tidak dapat dibangun hanya melalui instruksi formal di dalam kelas. Mereka secara aktif merancang berbagai program kokurikuler/projek dan ekstrakurikuler yang mendukung interaksi lintas identitas. Program-program ini berfungsi sebagai jembatan bagi murid untuk mempraktikkan nilai-nilai toleransi dan kerja sama dalam situasi yang lebih rileks namun tetap edukatif dalam suasana perbedaan.

Selain program yang terstruktur, suasana lingkungan belajar yang diciptakan sehari-hari (pembiasaan) turut menjadi penentu keberhasilan pembangunan karakter ini. Lingkungan yang hangat, aman secara psikologis, dan saling menghargai perbedaan latar belakang akan menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan sikap inklusif. Ketika setiap elemen sekolah/madrasah, mulai dari pimpinan hingga staf dapat menunjukkan keteladanan dalam menghargai keragaman, maka suasana tersebut secara alami akan diserap oleh murid sebagai norma perilaku yang terpuji.

Sekolah atau madrasah yang berhasil mewujudkan iklim lingkungan belajar yang positif terhadap keberagaman adalah satuan pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai toleransi ke dalam setiap aspek kehidupan baik di sekolah dan di luar sekolah. Ciri utamanya terletak pada penggunaan strategi pengajaran yang kontekstual, penyediaan ruang refleksi bagi murid, serta adanya dukungan kuat melalui program pendukung dan atmosfer lingkungan yang inklusif. Dengan kinerja yang konsisten seperti ini, sekolah/madrasah tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga menghasilkan warga negara yang menghargai harmoni di tengah kemajemukan.

Sebagai gambaran, berikut adalah daftar contoh dokumen bukti yang menujukkan bahwa sekolah/madrasah menujukkkan Iklim lingkungan belajar yang membangun sikap positif terhadap keberagaman.

1.  Dokumen Perencanaan (Kurikulum & Visi-Misi)

Dokumen ini menunjukkan bahwa keberagaman sudah masuk dalam sistem perencanaan sekolah/madrasah.

·         Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP/KTSP): Adanya bab atau bagian yang secara eksplisit mencantumkan nilai toleransi dan keberagaman dalam Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah.

·         Modul Ajar/RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran): Rencana pembelajaran yang mencantumkan strategi diskusi kelompok heterogen atau materi yang mengintegrasikan konteks budaya/agama yang beragam.

·         Analisis Kebutuhan Murid: Data atau catatan yang menunjukkan sekolah/madrasah memahami latar belakang sosial-budaya muridnya.

2.  Dokumen Proses Pembelajaran (Kinerja Guru)

Dokumen ini membuktikan bahwa guru telah menerapkan strategi pengajaran yang inklusif.

·         Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD): Tugas-tugas yang memicu murid untuk berefleksi, berbagi pendapat, dan menarik kesimpulan tentang perbedaan.

·         Jurnal Mengajar Guru: Catatan harian guru yang mendokumentasikan kegiatan diskusi atau proyek kelompok yang membangun sikap positif terhadap perbedaan.

·         Foto/Video Kegiatan Pembelajaran: Dokumentasi saat murid melakukan presentasi atau kerja kelompok yang melibatkan interaksi aktif antar-latar belakang yang berbeda termasuk jenis kelamin.

3.  Dokumen Program Kokurikuler & Ekstrakurikuler

Dokumen ini membuktikan adanya program pendukung di luar jam pelajaran formal.

·         Laporan Kegiatan kokurikuler (Projek): Khususnya untuk tema "Bhinneka Tunggal Ika". Ini adalah bukti paling kuat dalam kurikulum merdeka.

·         Program Ekstrakurikuler Seni Budaya: Jadwal dan dokumentasi kegiatan yang memperkenalkan ragam budaya (tarian, musik, atau makanan tradisional, dll).

·         Laporan Perayaan Hari Besar: Dokumentasi kegiatan peringatan hari besar berbagai agama atau hari besar nasional yang dilakukan secara inklusif.

4.  Dokumen Suasana Lingkungan Belajar (Budaya Sekolah)

Dokumen ini menunjukkan bahwa lingkungan fisik dan sosial sekolah mendukung keberagaman.

·         Tata Tertib Sekolah: Aturan yang secara tegas melarang perundungan (bullying), diskriminasi, dan intoleransi dan atau bentuk lainnya.

·         Display Kelas/Mading: Foto-foto dinding kelas yang memajang poster tokoh lintas agama, peta budaya Indonesia, atau karya murid bertema persatuan, dll.

·         Hasil Survei Lingkungan Belajar (Sulinjar): Ringkasan hasil rapor pendidikan pada indikator "Iklim Kebinekaan" yang menunjukkan skor positif.

·         Dokumentasi Fasilitas Ibadah: Ketersediaan atau akses yang adil bagi murid untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing termasuk bagi murid yang beragama minoritas.

Seluruh dokumen tersebut di atas harus tersedia sebagai bentuk bahwa sekolah/madrasah telah mewujudkan Iklim lingkungan belajar yang membangun sikap positif terhadap keberagaman.

Dokumen-dokumen tersebut harus disimpan/diarsipkan dengan baik sebagai bentuk pertanggungjawaban jika sewaktu-waktu diminta baik oleh pihak internal, orang tua maupun pihak eksternal termasuk saat akreditasi sekolah/madrasah.

Terima kasih.




 

Related Posts

No comments:

Post a Comment