Mari Berbagi...dan Memberi....

2026-02-22

Membangun Kesetaraan Gender di Sekolah/Madrasah yang Heterogen. (Implementasi dan Bukti Kinerja).

| 2026-02-22

Kinerja sekolah atau madrasah dalam menciptakan iklim lingkungan belajar yang inklusif merupakan dasar dalam membangun kesadaran terhadap kesetaraan gender. Secara operasional, kinerja ini diartikan sebagai upaya sistematis sekolah dalam membangun kesadaran gender melalui proses pembelajaran, partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan sekolah/madrasah, serta penyediaan dukungan lainnya. Indikator ini juga menjadi tolok ukur penting dalam memfasilitasi hak sipil warga sekolah, termasuk kelompok minoritas, untuk beribadah dengan tenang serta memberikan hak yang sama bagi setiap individu untuk berkiprah dalam berbagai aspek/kegiatan tanpa diskriminatif.

Hal utama dalam mewujudkan kesetaraan gender terletak pada proses pembelajaran yang secara sengaja membangun sikap positif terhadap kesetaraan tanpa memandang latarbelakang murid. Contoh praktisnya dan sederhana misalnya, guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Modul Ajar yang mencantumkan diskusi tentang tokoh pahlawan nasional perempuan dan laki-laki secara seimbang. Dalam penggunaan sumber belajar, sekolah memastikan tidak ada buku teks yang mengandung ilustrasi bias, seperti gambar yang selalu memosisikan perempuan hanya di dapur dan laki-laki bekerja di kantor. Sebaliknya, buku yang digunakan menampilkan keragaman peran, misalnya perempuan sebagai ilmuwan atau laki-laki yang melakukan aktivitas domestik, guna meruntuhkan persepsi ketidaksetaraan sejak dini.

Indikator kedua menuntut sekolah/madrasah untuk menjamin hak yang sama bagi murid laki-laki dan perempuan dalam mengakses seluruh fasilitas pendidikan. Misalnya, sekolah memastikan laboratorium komputer atau ruang praktik sains dapat digunakan oleh semua murid tanpa pembagian jadwal berdasarkan jenis kelamin. Tidak boleh ada kebijakan yang menghambat murid perempuan untuk mengambil peminatan teknik atau murid laki-laki untuk mengambil peminatan tata boga. Dengan meniadakan perbedaan akses terhadap materi dan fasilitas, sekolah memberikan sinyal kuat bahwa setiap murid memiliki kapasitas intelektual yang setara untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan.

Kinerja sekolah yang sehat juga terlihat dari rancangan kegiatan organisasi intra sekolah (OSIS) dan ekstrakurikuler yang mendorong partisipasi lintas gender. Contohnya, dalam pemilihan Ketua OSIS, sekolah/madrasah memberikan panggung yang setara bagi kandidat perempuan dan laki-laki tanpa ada kriteria "pemimpin harus laki-laki". Selain itu, kegiatan rutin seperti piket kelas dilakukan bersama secara adil tanpa membagi tugas "perempuan menyapu" dan "laki-laki mengangkat meja". Semua jenis ekstrakurikuler, mulai dari sepak bola hingga seni tari, dan lain-lain terbuka lebar bagi semua murid untuk bergabung berdasarkan minat, bukan jenis kelamin.

Selain berlaku pada murid, kesadaran kesetaraan gender harus juga tercermin dalam manajemen pendidik dan tenaga kependidikan. Misalnya, kepala sekolah memberikan kesempatan bagi guru perempuan untuk menjadi wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana (yang sering dianggap bidang laki-laki) atau menugaskan guru laki-laki sebagai koordinator bidang kesiswaan yang lebih bersifat persuasif. Sekolah/madrasah tidak lagi ditemukan pengkotakan tugas di mana tugas administratif hanya dibebankan kepada staf perempuan melainkan sebaliknya. Penugasan didasarkan sepenuhnya pada kompetensi profesional dan prestasi kerja, sehingga tercipta iklim kerja yang adil dan suportif.

Sekolah/madrasah yang mencapai predikat kinerja baik adalah lembaga yang mampu mengintegrasikan seluruh indikator di atas secara konsisten. Karakteristik utamanya adalah terpenuhinya kriteria pembelajaran yang menempatkan semua murid sama dan memiliki kesempatan dan perlakuan yang sama, ketiadaan kebijakan diskriminatif dalam organisasi murid, serta hilangnya stereotip dalam pembagian tugas staf. Sekolah/madrasah secara rutin harus melakukan evaluasi terhadap kebijakan internalnya untuk memastikan tidak ada aturan yang membatasi hak sipil warga sekolah, termasuk memberikan ruang ibadah yang layak bagi minoritas dan memastikan semua individu memiliki suara yang didengar dalam pengambilan keputusan strategis sekolah.

Pada akhirnya, sekolah atau madrasah yang berhasil mewujudkan iklim kesetaraan gender adalah sekolah/madrasah yang mentransformasi teori menjadi tindakan nyata. Ciri utamanya adalah hilangnya segregasi peran dan terciptanya akses yang setara dalam setiap aspek pedagogis maupun administrative bagi semua murid, guru dan tenaga kependidikan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai kesetaraan ke dalam visi dan praktik harian, sekolah tersebut tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga sedang menyemai nilai-nilai dan budaya luhur, yaitu membentuk karakter warga negara yang menjunjung tinggi keadilan, inklusivitas, dan martabat kemanusiaan secara utuh.

Sebagai bukti kinerja sekolah, berikut adalah eviden (bukti fisik) yang harus tersedia untuk menunjukkan keterpenuhan indikator tentang Kinerja Sekolah/Madrasah dalam mewujudkan Iklim lingkungan belajar yang membangun kesadaran terhadap kesetaraan gender pada sekolah yang heterogen


No

Kategori Bukti

Contoh Dokumen/Eviden

Catatan/Penjelasan

1

Kurikulum

RPP/Modul Ajar & Daftar Buku Teks.

Menunjukkan bahwa kesadaran gender adalah hasil rancangan pedagogis yang sengaja (by design), bukan kebetulan seperti saat pembagian kelompok, diskusi dan pembagian peran lainnya.

2

Kesiswaan

SK Pengurus OSIS & Program Ekstrakurikuler, dan kegiatan sekolah lainnya.

Bukti bahwa budaya sekolah menghargai kapasitas kepemimpinan individu tanpa memandang jenis kelamin.

3

Tata Tertib

Jadwal Piket & Aturan Penggunaan Lab, Perpustakaan, Lapangan Olahraga/Terbuka, dll.

Menunjukkan praktik harian yang menghapus stereotip peran kelompok tertentu dan menjamin kesetaraan akses fasilitas bagi semua warga sekolah.

4

Manajemen SDM

SK Penugasan Guru/Tenaga Kependidikan dalam berbagai kegiatan/program sekolah.

Menegaskan profesionalisme sebagai pendidik; memberikan teladan (role model) dalam berbagai peran strategis bagi semua tanpa memandang gender.

5

Iklim Budaya

Dokumentasi Fasilitasi Ibadah & Poster Edukasi, Anti Perundungan/Anti Bully, dll.

Memperluas makna kesetaraan ke dalam spektrum inklusivitas hak sipil dan fungsi lingkungan sebagai faktor penting bagi terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Terima kasih.

Silahkan berbagi jika bermanfaat.

 


Related Posts

No comments:

Post a Comment