Mari Berbagi...dan Memberi....

2020-07-30

KESESUAIAN METODE PENDIDIKAN ISLAM DALAM SEGALA KONDISI

| 2020-07-30

Pendidikan Islam
Wabah Corona Virus Desease-19 (COVID-19) menimbulkan tantangan baru bagi kehidupan manusia, tak ketinggalan dunia pendidikan sebagai garda terdepan dalam membangun generasi bangsa yang berkualitas.

Hingga akhir Juli 2020, berdasarkan data Worldometers, jumlah kasus virus corona tercatat sebanyak 15.347.848 kasus. Dari angka itu, 625.110 orang meninggal dunia, dan jumlah yang sembuh sebanyak 9.332.230 orang. (Kompas.com, 23/7/2020). Sedangkan di Indonesia jumlah korban 4.714 orang dinyatakan meninggal, dari 97.286 yang dinyatakan positif terpapar.

Kekhawatiran dan masih tingginya angka positif dan kematian akibat Covid-19, maka pemerintah belum berani dan belum bisa memastikan sekolah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka. Dan berasarkan kesepakatan empat kementerian, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri, bahwa sekolah yang berada di zona oranye, kuning dan apalagi merah tidak diperkenankan untuk membuka sekolah dan menyelenggaran pembelajaran tatap muka. Hal ini dilakukan untuk mencegah sekolah sebagai klaster baru penyebaran Covid-19.

Agar anak (peserta didik) tetap mendapatkan layanan pendidikan, maka pemerintah melaksanakan program Belajar dari Rumah (BDR) melalui model Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) baik yang dilakukan secara daring (dalam jaringan/online) maupun secara luring (di luar jaringan/offline), atau kombinasi dari keduanya.

Kita belum mengetahui secara pasti tentang efektivitas pelaksanaan belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh baik secara luring ataupun daring atau gabungan keduanya, yang jelas saat ini semua pihak baik sekolah (guru), orang tua, maupun objek sasaran yaitu peserta didik mengalami banyak kesulitan.

Bagi seorang muslim, Islam telah mangatur segala urusan mahluk-Nya di dunia dengan serapih-rapihnya penuh dengan kemanfaata/kemaslahatan bagi dirinya dan atau bagi sesamanya.

Perkara pembelajaran, Islam telah mengatur pula bagai aman strategi dalam mendidik (mengajar) anak. Salah satunya adalah konsep pendidikan menurut An Nahlawi dalam kitabnya yang berjudul Ushul Al-Tarbih Al-Islamiyyah Wa Asalibuha, bahwa menurut beliau ada tujuh kiat atau cara dalam mendidik anak (mengajar) anak:

1.   Hiwar (dialog)

Dialog secara langsung merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif dalam mendidik atau mengajari anak. Karena melalui metode ini kemampuan pemahaman anak terhadap apa yang disampikan akan dapat dengan mudah dipahami dan bahkan mengajukan pertanyaan (bertanya) langsung jika ada hal-hal yang tidak atau kurang dipahami oleh guru atau orang tua.

Begitu pun saat Baginda Rosulullah saw, saat berdakwah, metode dialog ini merupakan salah satu sarana yang sering digunakan dalam menyampaikan pesan kenabiannya kepada para sahabat (pengikut) setia Beliau.

2.   Kisah

Dalam pendidikan Islam, metode pendidikan melalui kisah dapat membangkitkan dan membentuk prilaku atau karakter yang bagi anak-anak. Jika yang dikisahkan merupakan kisah atau sejarah yang memiliki kandungan cerita yang baik, maka insya Allah dalam jiwa anak akan terbentuk prilaku karakter atau sifat positif sebagai mana yang dikisahkan kepada anak tersebut dan sebaliknya.

Saat ini banyak prilaku penyimpangan sifat atau karakter anak sebagai dampak dari apa yang sering ia lihat atau dengar, misalnya melalui cerita dan lain-lain. Sehingga ia terinsfirasi untuk melakukan kejahatan atau penyimpangan karakter tersebut.

3.   Perumpamaan

Tentang perumpamaan dalam Islam, baik tercatan dalam Al Qur’an maupun Hadits sangat banyak jumlahnya. Misalnya perumpamaan sifat atau karakter seorang muslim yang diumpamakan seperti seperti seekor “lebah” yang memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik pula, dan jika ia hinggap di batang atau ranting tidak menyebakan kerusakan apapun pada ranting atau batang yang ia hingggapi.

Perumpamaan semacam ini sangat baik disampaikan saat mendidik anak, sehingga ia akan lebih mengerti dan memahami apa sebenarnya yang harus ia ikuti sebagai seoranag hamba yang baik.

4.   Keteladanan

Sudah sangat jelas dengan metode pendidikan Islam yang satu ini. Orang tua dan guru sebagai pribadi yang dewasa harus mencerminkan pribadi yang menujukkan sosok teladan yang harus diikuti segala prilakunya oleh anak.

Guru atau orang tua yang teladan dan konssten dengan prilaku keteladannya tersebut akan lebih mudah dalam menanamkan pemahaman anak dalam mencerna apa yang harus dia terima dan mereflekdiknnya dalam dunia nyata baik dalam kontek dunia anak maupun dalam kontek kemasyarakatan (hubungan dengan sesame).

5.   Latihan dan Pengamalan

Anak yang telah memiliki pemahaman tentang apa yang ia pelajari, maka selanjutnya sangat penting untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam membiasakan apa yang telah mereka peroleh. Pada tataran ini mereka harus dibiasakan atau dilatih sehingga terbentuk pola kebiasaan atau terampil (otomatis) berprilaku sesuai dengan apa yang ia pelajari dan orang tua atau guru kehendaki.

Orang tua atau guru harus berperan sebagai pembimbing yang memiliki karakter dan sifat teladan bagi mereka sehingga pola latihan yang mereka lakukan  tak membebani karena orangtua pun memberikan dorongan, contoh, dan lain-lain dalam pembentukan pribadi anak yang soleh, cerdas dan berkarakter.

6.   Ibrah dan Mauizhah

Ibrah mengandung makna mengambil palajaran dari kisah atau kejadian yang dapat dijadikan sebagai pelajaran. Islam banyak pelajaran yang dapat dijadikan pijakan dalam menopang dan  menjalani kewajiban menjalankan syariat dari banyak kisah sebagai bahan pelajaran berharga agar menjadi seorang ikhsan.

dari banyak pelajaran yang didapat selanjutnya harus mampu di sampaikan kepada anak-anak berupa nasehat agar ia kelak menjadi insan yang baik sesuai pelajaran yang diperolehnya.

7.   Targhib dan Tarhib

Targhib adalah janji-janji yang menyenangkan sebagai balasan bagi orang yang berbuat baik. Sedangkan tarhib adalah ancaman yang menggambarkan kengerian jika seseorang melakukan atau melanggar aturan (agama).

Dalam konsep belajar (pendidikan) metode ini sangatbbaik untuk memotivasi atau meberikan dorongan kepada anaka agar senantiasa berbuat sesuai dengan aturan atau pedoman (agama) yang dianutnya.

Jika kita sandingakn (bandingkan) antara konsep atau metode pendidikan Islam dan metode/konsep pendidikan nasional sangat jelas dan tidak ada yang berbeda baik dalam Kurikulum KTSP 2006 maupun Kurikulum 2013.

Konsep atau metode pendidikan Islam tetap relevan dan cocok untuk seluruh masa dan kondisi serta untuk seluruh kalangan umat di dunia, karena Islam diturunkan sebagai rahmat bagi semua umat tanpa ada pengecualian.

Masa sekarang merupakan masa tersulit bagi dunia pendidikan di tanah air, karena suasana pandemic Covid-19 yang mengharuskan anak-anak melakukan proses Pembelajaran Jarak jauh (PJJ) yang dilakukan secara daring ataupun luring, oleh karena itu kiranya seluruh stakeholder pendidikan senantiasa menerapkan metode pendidikan Islam dalam proses PJJ, karena metode ini tetap relevan termasuk saat pandemic seperti sekarang ini.


Related Posts

No comments:

Post a Comment